Latihan
Sabtu ini sudah selesai. 2 minggu lagi ada seleksi untuk pemilihan siapa yang ikut
DBL. Kembali lagi ke dalam rumah besar nan elite. Tapi buatku, masuk ke dalam
rumah itu bagaikan masuk ke dalam pusaran hitam sungai stynx. “Cha, udah pulang
dance? Mau minum apa?”, suara ramah yang sangat enak didengar dan sangat
kukenal menyambutku di depan pintu. “capek ya? Ibu siapkan air buat mandi ya?”
ujar Bu Kesha sambil membantuku untuk melepas sepatu dan menaruh tasku di
lemari. Wajah renta yang masih bisa
tersenyum dengan eloknya-lah yang membuatku merasa nyaman berada di rumah ini. “Boleh, Bu. Sabunnya
pakai yang wangi citrus ya. Biar nggak asseem.”, kataku sambil merangkul Bu
Kesha dengan manja.
Peluh yang membasahi bajunya membuat sensasi tersendiri
saat aku memeluknya. Tanpa kusadari, sesaat aku memejamkan mataku dan tiba-tiba
pipiku basah. Air apa’an nih? Aku mendongak, tak ada yang bocor. Ternyata tadi
air mataku keluar. Kenapa? Entahlah, aku juga tidak tahu. Tiba-tiba saja air
mataku keluar. Dengan segera aku mengusap air mata yang membasahi pipiku. “Ya
udah Bu, aku mau ke kamar dulu ya.”, yah, itu cara untuk mengalihkan perhatian
Bu Kesha dari kedua mataku yang merah dan berkaca-kaca.
