Rabu, 02 Oktober 2013

My Fiction Story | Something Cause Love ch@p 2

Latihan Sabtu ini sudah selesai. 2 minggu lagi ada seleksi untuk pemilihan siapa yang ikut DBL. Kembali lagi ke dalam rumah besar nan elite. Tapi buatku, masuk ke dalam rumah itu bagaikan masuk ke dalam pusaran hitam sungai stynx. “Cha, udah pulang dance? Mau minum apa?”, suara ramah yang sangat enak didengar dan sangat kukenal menyambutku di depan pintu. “capek ya? Ibu siapkan air buat mandi ya?” ujar Bu Kesha sambil membantuku untuk melepas sepatu dan menaruh tasku di lemari. Wajah renta yang masih  bisa tersenyum dengan eloknya-lah yang membuatku merasa nyaman  berada di rumah ini. “Boleh, Bu. Sabunnya pakai yang wangi citrus ya. Biar nggak asseem.”, kataku sambil merangkul Bu Kesha dengan manja. 

Peluh yang membasahi bajunya membuat sensasi tersendiri saat aku memeluknya. Tanpa kusadari, sesaat aku memejamkan mataku dan tiba-tiba pipiku basah. Air apa’an nih? Aku mendongak, tak ada yang bocor. Ternyata tadi air mataku keluar. Kenapa? Entahlah, aku juga tidak tahu. Tiba-tiba saja air mataku keluar. Dengan segera aku mengusap air mata yang membasahi pipiku. “Ya udah Bu, aku mau ke kamar dulu ya.”, yah, itu cara untuk mengalihkan perhatian Bu Kesha dari kedua mataku yang merah dan berkaca-kaca.

‘Blup blup’ aku menenggelamkan seluruh tubuhku mulai ujung kaki sampai secuil kulit dibawah lubang hidungku kedalam air beraroma Citrus. Otot-ototku rasanya sudah tidak seberapa tegang. Seluruh syarafku mulai merasakan rileks yang luar biasa. Ditambah dengan musik instrument yang berasal dari mp3 player putihku di balkon bathtub. Entah sihir dan ramuan apa yang Bu Kesha masukkan dalam setiap tetes air mandiku, selama ini, air yang Bu Kesha siapkan selalu bisa membuatku jauh lebih rileks. 

Perlahan aku mulai larut dalam kenyamanan dan ketenangan ini. Mataku mulai menutup. Terlintas dalam bayangan, sosok Bu Kesha yang selalu ada di sampingku, dan kedua orang tuaku yang selalu absen di sampingku. Kenapa mereka tidak seperti Bu Kesha? Sesekali melihat mama atau papa yang menyambutku di depan pintu pasti akan sangat menyenangkan. Apalagi kalau membayangkan masa-masa TK ku yang sangat indah. Masa dimana mama masih belum sibuk dengan bisnis resortnya. Aku ingin sekali mendapat dekapan hangat mama yang pernah kurasakan saat TK. Karena hanya sampai TK B aku merasakan hangatnya dekapan mama. Atau masa dimana papa sering mengajakku ke taman hiburan untuk naik komedi putar. Kenangan saat itu sangat ingin ku ulangi. Saat papa membelikanku boneka Stitch yang super gede, kalau saat itu, tinggi boneka stitchnya seukuranku. Ya Allah, andai aku Engkau beri kemampuan untuk bisa mengulang setiap momen indah sesukaku di saat aku merasa kesepian, mungkin aku tidak akan jadi anak senakal ini.

“Cha? Kok lama sekali? Kamu nggak apa kan?”, suara renta yang mencemaskanku terdengar dari balik pintu kamar mandi, membuatku kelagepan karena separuh air di bak memenuhi paru ku. “Eh, uhuk uhuk. Gak apa kok Bu, lagi P-We aja”. Setelah tragedi kelagepan itu, sesi di kamar mandi hari itu pun berakhir.

Kembali memasuki kamar tidurku yang acak adul. Semua barang tercecer di seluruh penjuru kamar. Kenapa sekarang aku baru menyadari kalau kamarku sangatlah tak enak dipandang. Dengan langkah malas, aku menuju cermin yang lumayan ukurannya untuk merapikan seluruh inchi tubuhku. Yap, biasalah yang dilakukan gadis ABG, apalagi kalau bukan dandan? Ku beri sedikit sentuhan pelembab dan bedak pada wajahku, kusisir rambut ikal pirangku dan kubiarkan tergerai begitu saja. Apa yang merasuki tubuh dan jiwaku? Tiba-tiba saja tanganku memungut semua barang-barang yang tergeletak di lantai dan merapikan mereka di tempatnya. WOW, ternyata kamarku ini kalau bersih bagus juga yah. Perpaduan antara warna coklat pastel dan putih terlihat sangat elegan dengan bed simple berwarna hitam dan putih. Sangat elegan . . .

Aku beranjak menuju meja belajarku yang entah sudah berapa abad tak terjamah olehku. Aku lihat jadwal pelajaran besok. Ehmm, ada tugas kah? Oh!! Ya ampun, tugas matematika!! Dengan sigap aku mengambil buku tulis matematika dan tepak. Ku buka halaman buku dengan sangat cepat, yang untungnya tak sampai membuat kertasnya sobek. Hei, lagi-lagi. Apa yang merasukiku hari ini? Semua yang belum pernah aku lakukan bisa kuselesaikan dalam waktu singkat dan tanpa menemukan hambatan. “Wow! Chacha, ternyata kau lumayan pintar yah. Coba, dari dulu kau rajin seperti sekarang ini, kau pasti akan jadi juara kelas terus.”, gumamku setelah melihat dan menyadari kalau sekarang baru pukul 4 sore. 

Semua tugas udah selesai, mau ngapain lagi ya? Bu Kesha emang paling TOP deh!! Selalu muncul di saat yang tepat! Pas banget, perutku lagi keroncongan. Eh, Bu Kesha masuk kamar sambil membawa nampan bertahtakan sepiring nasi hangat dan semangkuk kepiting asam manis lengkap dengan jus jeruk kesukaanku!! “Wow, Ibu pas banget deh datengnya.”, kataku sambil menanti kedatangan sang kepiting special buatan Bu Kesha. Tanpa banyak cincong, ku lahap habis semua yang di bawa Bu Kesha tadi.


Hmmm.. sekolah pun memulai ritual-ritualnya yang membosankan. Hari minggu kemarin, disaat yang lain refreshing bersama keluarganya, aku hanya nonton acara televisi yang perasaan itu-itu saja deh. Memuakkan. Pelajaran kali ini fisika. Ampun deh. Bu Lusi! I’am very afraid of her! Killernya gak ketulungan deh. Setelah bla-bla-bla panjang lebar, hal yang paling kubenci pada guru satu ini, yap, pasti ngasih tugas. Ku buka lembar-lembar buku paket dengan malas. Busset dah, nih guru yakin mau ngasih soal bejibun gini? Gila men! 20 soal uraian!! Dalam waktu setengah jam??  Oh, God! Aku gak yakin bisa ngerjain semua soal ini bahkan kalau diberi waktu 1 minggu, apalagi sekarang Cuma setengah jam? What the hell?!! Yah … akhirnya dengan terpaksa aku mulai menggoreskan serbuk pensilku ke atas lembar putih buku tulis. Aneh. Lagi-lagi. Aku bisa menyelesaikan semua soal tanpa ada asap jenuh yang keluar dari otakku. Ini kali pertama aku bisa seperti itu setelah sekian lama. 

TO BE CONTINUED . . . 
sorry ya kalau publish yang satu ini terlalu pendek . . ^^

Tidak ada komentar :

Posting Komentar