Latihan
Sabtu ini sudah selesai. 2 minggu lagi ada seleksi untuk pemilihan siapa yang ikut
DBL. Kembali lagi ke dalam rumah besar nan elite. Tapi buatku, masuk ke dalam
rumah itu bagaikan masuk ke dalam pusaran hitam sungai stynx. “Cha, udah pulang
dance? Mau minum apa?”, suara ramah yang sangat enak didengar dan sangat
kukenal menyambutku di depan pintu. “capek ya? Ibu siapkan air buat mandi ya?”
ujar Bu Kesha sambil membantuku untuk melepas sepatu dan menaruh tasku di
lemari. Wajah renta yang masih bisa
tersenyum dengan eloknya-lah yang membuatku merasa nyaman berada di rumah ini. “Boleh, Bu. Sabunnya
pakai yang wangi citrus ya. Biar nggak asseem.”, kataku sambil merangkul Bu
Kesha dengan manja.
Peluh yang membasahi bajunya membuat sensasi tersendiri
saat aku memeluknya. Tanpa kusadari, sesaat aku memejamkan mataku dan tiba-tiba
pipiku basah. Air apa’an nih? Aku mendongak, tak ada yang bocor. Ternyata tadi
air mataku keluar. Kenapa? Entahlah, aku juga tidak tahu. Tiba-tiba saja air
mataku keluar. Dengan segera aku mengusap air mata yang membasahi pipiku. “Ya
udah Bu, aku mau ke kamar dulu ya.”, yah, itu cara untuk mengalihkan perhatian
Bu Kesha dari kedua mataku yang merah dan berkaca-kaca.
‘Blup blup’
aku menenggelamkan seluruh tubuhku mulai ujung kaki sampai secuil kulit dibawah
lubang hidungku kedalam air beraroma Citrus. Otot-ototku rasanya sudah tidak
seberapa tegang. Seluruh syarafku mulai merasakan rileks yang luar biasa.
Ditambah dengan musik instrument yang berasal dari mp3 player putihku di balkon
bathtub. Entah sihir dan ramuan apa yang Bu Kesha masukkan dalam setiap tetes
air mandiku, selama ini, air yang Bu Kesha siapkan selalu bisa membuatku jauh
lebih rileks.
Perlahan aku mulai larut dalam kenyamanan dan ketenangan ini.
Mataku mulai menutup. Terlintas dalam bayangan, sosok Bu Kesha yang selalu ada
di sampingku, dan kedua orang tuaku yang selalu absen di sampingku. Kenapa
mereka tidak seperti Bu Kesha? Sesekali melihat mama atau papa yang menyambutku
di depan pintu pasti akan sangat menyenangkan. Apalagi kalau membayangkan
masa-masa TK ku yang sangat indah. Masa dimana mama masih belum sibuk dengan
bisnis resortnya. Aku ingin sekali mendapat dekapan hangat mama yang pernah
kurasakan saat TK. Karena hanya sampai TK B aku merasakan hangatnya dekapan
mama. Atau masa dimana papa sering mengajakku ke taman hiburan untuk naik
komedi putar. Kenangan saat itu sangat ingin ku ulangi. Saat papa membelikanku
boneka Stitch yang super gede, kalau saat itu, tinggi boneka stitchnya
seukuranku. Ya Allah, andai aku
Engkau beri kemampuan untuk bisa mengulang setiap momen indah sesukaku di saat
aku merasa kesepian, mungkin aku tidak akan jadi anak senakal ini.
“Cha? Kok
lama sekali? Kamu nggak apa kan?”, suara renta yang mencemaskanku terdengar
dari balik pintu kamar mandi, membuatku kelagepan karena separuh air di bak
memenuhi paru ku. “Eh, uhuk uhuk. Gak apa kok Bu, lagi P-We aja”. Setelah
tragedi kelagepan itu, sesi di kamar mandi hari itu pun berakhir.
Kembali
memasuki kamar tidurku yang acak adul. Semua barang tercecer di seluruh penjuru
kamar. Kenapa sekarang aku baru menyadari kalau kamarku sangatlah tak enak
dipandang. Dengan langkah malas, aku menuju cermin yang lumayan ukurannya untuk
merapikan seluruh inchi tubuhku. Yap, biasalah yang dilakukan gadis ABG,
apalagi kalau bukan dandan? Ku beri sedikit sentuhan pelembab dan bedak pada
wajahku, kusisir rambut ikal pirangku dan kubiarkan tergerai begitu saja. Apa
yang merasuki tubuh dan jiwaku? Tiba-tiba saja tanganku memungut semua
barang-barang yang tergeletak di lantai dan merapikan mereka di tempatnya. WOW,
ternyata kamarku ini kalau bersih bagus juga yah. Perpaduan antara warna coklat
pastel dan putih terlihat sangat elegan dengan bed simple berwarna hitam dan
putih. Sangat elegan . . .
Aku beranjak
menuju meja belajarku yang entah sudah berapa abad tak terjamah olehku. Aku
lihat jadwal pelajaran besok. Ehmm, ada tugas kah? Oh!! Ya ampun, tugas
matematika!! Dengan sigap aku mengambil buku tulis matematika dan tepak. Ku
buka halaman buku dengan sangat cepat, yang untungnya tak sampai membuat
kertasnya sobek. Hei, lagi-lagi. Apa yang merasukiku hari ini? Semua yang belum
pernah aku lakukan bisa kuselesaikan dalam waktu singkat dan tanpa menemukan
hambatan. “Wow! Chacha, ternyata kau lumayan pintar yah. Coba, dari dulu kau
rajin seperti sekarang ini, kau pasti akan jadi juara kelas terus.”, gumamku
setelah melihat dan menyadari kalau sekarang baru pukul 4 sore.
Semua tugas udah
selesai, mau ngapain lagi ya? Bu Kesha emang paling TOP deh!! Selalu muncul di
saat yang tepat! Pas banget, perutku lagi keroncongan. Eh, Bu Kesha masuk kamar
sambil membawa nampan bertahtakan sepiring nasi hangat dan semangkuk kepiting
asam manis lengkap dengan jus jeruk kesukaanku!! “Wow, Ibu pas banget deh
datengnya.”, kataku sambil menanti kedatangan sang kepiting special buatan Bu
Kesha. Tanpa banyak cincong, ku lahap habis semua yang di bawa Bu Kesha tadi.
Hmmm..
sekolah pun memulai ritual-ritualnya yang membosankan. Hari minggu kemarin,
disaat yang lain refreshing bersama keluarganya, aku hanya nonton acara
televisi yang perasaan itu-itu saja deh. Memuakkan. Pelajaran kali ini fisika.
Ampun deh. Bu Lusi! I’am very afraid of her! Killernya gak ketulungan deh.
Setelah bla-bla-bla panjang lebar, hal yang paling kubenci pada guru satu ini,
yap, pasti ngasih tugas. Ku buka lembar-lembar buku paket dengan malas. Busset
dah, nih guru yakin mau ngasih soal bejibun gini? Gila men! 20 soal uraian!!
Dalam waktu setengah jam?? Oh, God! Aku
gak yakin bisa ngerjain semua soal ini bahkan kalau diberi waktu 1 minggu,
apalagi sekarang Cuma setengah jam? What the hell?!! Yah … akhirnya dengan
terpaksa aku mulai menggoreskan serbuk pensilku ke atas lembar putih buku
tulis. Aneh. Lagi-lagi. Aku bisa menyelesaikan semua soal tanpa ada asap jenuh
yang keluar dari otakku. Ini kali pertama aku bisa seperti itu setelah sekian lama.
TO BE CONTINUED . . .
sorry ya kalau publish yang satu ini terlalu pendek . . ^^
Tidak ada komentar :
Posting Komentar