Selasa, 01 Oktober 2013

My Fiction Story | Something Cause Love ch@p 1


Hai hai . . . ^^
Setelah lama gak buka blog n publish, akhirnya aku punya ide cerita yang mungkin lumayan untuk dibaca. Ini Cuma fiktif n khayalanku doang. So, nama-nama di sini bukan nama yang sebenarnya, itu cuman bayanganku aja . . . okeh lah, gak banyak cincong lagi.
Happy Reading !!!! :*

Something Cause Love

“Cha!!”, “Hei!!!”, Hati-hati!!”, “Ouch…”. Yah, kegaduhan yang kusebabkan sehari-hari. Misi hari ini adalah main roll skate di koridor sekolah. Sudah sering sekali aku masuk BK, tapi entah kenapa hal-hal yang bikin ribut malah jadi kesenangan tersendiri bagiku. Chacha, begitulah mereka menyebut namaku. Entah kenapa aku agak geli dengan nama itu, persis dengan nama permen coklat. Kenapa mereka tidak mengambil nama depanku? Hanya 1 kalimat dari 3 kalimat dari namaku. Annisa Chacha Yurdianto. Kenapa mereka tidak memanggilku Nisa? Dan malah memanggilku Chacha? Mungkin karena nama Nisa terlalu indah untukku yang banyak tingkah. Tapi aku ingin sekali dipanggil Nisa, kan lebih muslimah. 

Kalau kau ke SMAN 2 Surabaya, dan menanyakan mana yang namanya Chacha, ke siapapun kau tanya, mereka pasti akan tahu. Tapi kalau kau mencariku dengan nama Annisa, mereka pasti bilang “aku nggak tau, udah pulang mungkin.”, padahal saat itu aku sedang duduk disampingnya, dan baru 1 menit lalu aku mengobrol dengannya. Hei jangan salah persepsi tentangku dulu ya, aku cuma siswi SMA biasa, yang nggak pinter, JONES, nggak jago ngapa-ngapain selain bikin ribut. So, aku famous di sana karena keseringan masuk BK dan ngejailin semua siswa di sana, meskipun aku nggak kenal.


Yap, tiap tahun pelajaran aku pasti sering dapat panggilan orang tua ke BK, tapi para guru BK pasti di-PHP.in terus sama ortu ku. Aku aja yang anaknya sering banget di-PHP.in mereka, eh selalu ding. Terlalu over dengan pekerjaan mereka, sampai lupa kalau punya anak. Sehari pergi ke Singapore, besoknya pergi ke Taiwan, besoknya lagi pergi ke Belanda, dan gitu seterusnya. Sekalipun ada dirumah, pasti seharian penuh ngadep.in laptop kalau gak ya HP atau gadget lain buat ngurusin bisnis mereka. Banyak temen yang bilang “Eh Cha, enak banget ya kamu, tiap tahun beli gadget baru, jadi ngiri. 

Pingin gitu yah ngerasain jadi anaknya ortu mu.”, aku hanya bisa membalas pujian mereka dengan senyum. Sebenarnya tiap kata pujian yang mereka lontarkan bak pisau bermata ganda yang membuka lagi sayatan yang sudah susah payah ku pulihkan selama ini. Andai mereka tahu betapa tak enaknya jadi aku, dan andai mereka tahu inginnya aku punya keluarga seperti mereka yang selalu bisa sama-sama merasakan moment-moment indah. Dan andai mereka tahu betapa mirisnya alasan kedua ortu ku membelikanku gadget baru dengan harga yang mahal karena mereka ingin membalas ketidak hadiran mereka dalam setiap detik yang ku lewati. Apa moment indah bersama keluarga bisa digantikan dengan mudah dengan gadget yang berharga mahal? Hal itu sungguh membuatku kesal.

Sudah memasuki tahun pelajaran kedua. Umurku sudah 16 tahun. Ulang tahun yang sangat menyebalkan! Usia yang sangat memuakkan! Dan aku benci dengan kehidupanku selama ini! Semua berjalan monoton, hanya aku yang berusaha untuk menarik perhatian ke arahku. Alih-alih perhatian, hukumanlah yang kerap kuterima selama ini. Karena kedua orang yang harus kuhormati tidak pernah memperhatikanku.

Menelephone hanya untuk bilang “Halo sweetheart… gimana kabarmu? Maaf ya mama sama papa belum bisa temenin kamu disana. Kamu hati-hati ya.. jangan lupa makan… jaga kesehatanmu…”, hanya bilang seperti itu apa susahnya sih? Toh nggak bakal ngehabisin pulsa juga kan? Tiap hari aku dituntut oleh hatiku untuk selalu patuh dan menghormati mereka. Yah, aku tahu mereka seperti itu juga untuk masa depanku. Tapi, tolonglah mereka punya kesadaran bahwa dirumah seluas 1300 hectare hanya berdua dengan Bu Kesha yang merupakan pembatu rumah tangga yang sudah merawat aku mulai kecil sangatlah membosankan. Kalau dihitung-hitung, mulai kecil sampai aku segede ini, aku lebih sering bareng Bu Kesha dari pada orang tua ku.

Oke, aku sudah mulai bosan dengan hukuman-hukuman yang sering kuterima. Saatnya cari-cari kegiatan yang bikin sibuk nih! Tapi apa’an ya? Aku kan nggak punya bakat satupun… Alright!! Let’s round SMAN 2 Surabaya!!!! Mumpung lagi istirahat nih . . .

Saat keliling sekolah, mataku tiba-tiba terfokus pada satu titik pada bola basket yang sedang di dribble …. Ehm, sama Kelvin!! Anak sok yang ngeselin bangeeet!! Sumpah deh! Nggak kebayang gimana kalau sampek aku ikut basket?? Bisa-bisa aku yang di-bully. Gak banget ya kalau itu kejadian. Untung aku sadar, sebelum mata Kelvin akhirnya tertuju padaku, aku udah kabur duluan, jadi dia gak tambah sok-sok-an mainin tuh bola basket. Lanjut lagi muter-muternya. Kali ini otakku yang bekerja. 

Otakku memikirkan hal yang sama dengan apa yang ku lihat sekarang. Yup, ekskul yang berhubungan dengan basket. Apalagi kalau bukan dance? Sesaat aku melihat gerakan-gerakan mereka. WOW! That’s so cool men!! The coolest thing ever I seen mungkin … dan yeah, muncul bohlam inspirasi di atas kepalaku. Dan otakku memerintahkan kakiku untuk berjalan ke arah kerumunan anak dance yang sedang latian. ‘ini kan masih awal semester baru, jadi gak masalah kan kalau ikut dance? Kayaknya seru juga. Dulu aku juga sering ikut tari tradisional kok’ pikirku selama menempuh perjalanan ke arah kerumunan dancer SMADA. 

Dengan PD-nya, aku tersenyum sambil berkata “Permisi kak, boleh ikut gabung ke tim dance nggak?”, kepada pelatih dance yang mungkin baru berumur 20-an. Yah aku tahu, kedatanganku pasti ganggu latian mereka, tapi ya gimana lagi? Aku orangnya ceplas-ceplos kayak gini. “Eh? Boleh! Boleh banget malah.Kebetulan kita lagi cari kru tambahan buat tim dance. Latihannya tiap hari sabtu ya jam 9.”, katanya ramah. “loh, kalau latihannya tiap hari Sabtu aja, terus kalian ini lagi ngapain?”, Tanyaku kepo dengan nada dan gaya bahasa yang sok polos. Jadi jijik sendiri deh. 

“Oh, nggak kok. Kita Cuma lagi kumpul-kumpul aja buat ngeratin satu sama lain. Sekalian juga buat hafal-hafal gerakan bareng.”, jawab pelatih itu lagi-lagi dengan ramah dan senyum di bibirnya. Sempat aku berfikir, ini pelatih apa angel sih? Murah senyum sekali orangnya. Nggak kayak pelatih basket di SMP ku dulu. Killer abis deh, tapi kalau ngajar seru. Kita jadi cepet nguasainnya. “Oh ya, aku manggil kakak apa nih?”, tanyaku setelah tersadar kalau aku belum tahu nama calon pelatihku. “Oh, panggil kak Dhani aja.” Ooh, namanya kak Dhani toh.

Sabtu pagi ini, aku bakal jadi Chacha yang berbeda. Perubahan yang dimulai dari satu langkah dalam koreografi. Senior-senior yang udah ikut dance mulai kelas 1, jadi motivasi tersendiri. Apalagi mereka udah pernah tampil maksimal di DBL, ajang paling bergengsi buat para dancer SMP dan SMA.

Sebelum latihan, kami para pemula harus melakukan ritual yang biasa para senior lakukan. Ritual pertama adalah lari keliling aula 10 kali, dilanjut dengan stretching ‘plus’ push up 15 kali. Dan kau tahu sialnya apa? Di antara 25 pemula, aku adalah yang tertua. Yup! Yang lain masih pada kelas 1, nah aku? Aku kelas 2 satu-satunya. Ingat, dengan penekanan pada kata ‘satu-satunya’. Lari aula 10 kali aja udah bikin ngos-ngosan, ditambah harus nunggu Kak Dhani yang ngaret sampai 30 menit lamanya. Ngapain aja sih nih orang? Ngaret kok parah sekali? Jadi kesel sendiri deh. Tapi gimana-gimana dia kan pelatih, jadi gak masalah juga sih, yang masalah kalau sampai anak didiknya yang ngaret. Bisa-bisa gak ada latihan hari ini.


Setelah lama nunggu, akhirnya Kak Dhani dateng sambil ‘nenteng’ tas laptopnya. Dengan kemeja kotak-kotak merah khas anak kuliahan dan celana jins yang rada kegedean kelihatan fits banget sama postur dan pigmen Kak Dhani. “Kak, lama banget datengnya?”, ujar SMADAV serentak. Oh ya, SMADAV di sini bukan software anti virus itu loh ya. SMADAV itu nama tim dance generasi pertama di SMA 2, kependekan dari SMADA in Victory. “Sorry, aku tadi ada kuliah tambahan.”, jawab Kak Dhani sambil menyiapkan laptop lengkap dengan charger dan bejibun kabel, yang entah itu kabel apa’an. Latihan pun dimulai. Gerak koreo dasar seperti waving, frishno, locking dan hit kami lakukan diiringi lagu hip-hop berirama menghentak.

1 komentar :

  1. kalau kamu suka, leave comment yah . . Insya Allah aku lanjutin ^^

    BalasHapus